adsense

Sabtu, 03 Januari 2015

3 Kembali 3 - Oleh Gusti Bintang

          Saat duduk dibangku dengan seragam pendek putih biru tua, aku, fadil, dan agus menjalin persahabatan. Kita kenal baru saja, tapi kita merasa sudah saling cocok antara satu sama lain, dan mampu memahami kehidupan masing-masing. Sejak pertama masuk di masa orientasi siswa, kami ditakdirkan untuk berada di atap yang sama, ruang yang sama, udara yang kita hirup pun sama, tak ada yang beda. Kita selalu menjalani aktifitas yang sama, sejauh ini aku merasakan tak ada langkah kita yang berbeda, selalu saja sama. Aku menyebutnya ini sahabat kecilku yang baru. Aku mulai tertanam rasa untuk memberi nama persahabatan ini adalah “Tiga Nama” karena kita mempunyai nama yang huruf depannya berurutan seperti alfabet, kita juga punya nama panggilan yang berisi hanya 3 huruf saja, dan memang persahabatan kita ada 3 anggota. Ketika kelas 7 SMP dulu, kita selalu menghabiskan waktu bersama, ke kantin, dihukum, ngerjain PR, tugas kelompok, bermain, menghabiskan waktu akhir pekan. Kita bertiga sering dipanggil orang dengan sebutan anak kembar, padahal kan kita mempunyai mimik wajah yang berbeda satu sama lain. Agus mempunyai cita-cita yang sangat mudah untuk diraih dalam satu tahun kedepan, Agus mempunyai cita-cita sederhana agar kita tetap utuh. “Suatu hari, jika kita memang ditakdirkan kembali untuk memasuki ruang yang berbeda, dengan jarak yang jauh, dan atap kita tak sama, aku ingin kita selalu bersama seperti ini. Tak ada lagi yang berbeda” harapan Agus untuk satu tahun kedepan demi keutuhan “Tiga Nama”. Aku dan Fadil tentu selalu menyetujui ketika hal tersebut masih tercium bau positif untuk persahabatan kita. Selain harapan Agus yang mulia, tapi dia juga sempat bercerita kepada aku dan fadil, jika dia tidak suka jika harus satu kelas dengan teman-teman yang selalu berkehidupan mewah, suka menghambur-hamburkan uang mereka demi kesenangan sesaat. Aku dan fadil menghargai Agus, yang tidak suka dengan orang-orang yang suka membuang uang mereka dengan hal yang sesaat.
            Hari demi hari berlalu, kami selalu menikmatinya agar ada banyak hal lagi yang akan kami lakukan bersama. Namun akhirnya semua memang berlalu begitu cepat, kebersamaan yang kita lakukan membawa kami untuk bertemu dengan ujian akhir semester. Kami selalu menambahkan kenangan disela-sela kesibukan belajar kami dengan belajar kelompok bersama di rumah kami bertiga secara bergantian. Dan akhirnya setelah setahun kita bersama didalam suka duka, untuk yang pertama kalinya kita berbeda arah, berbeda langkah. Aku dan Fadil bersama, dan kita berpisah dengan Agus. Mungkin kami perlu memperlapang dada, belajar mengikhlaskan walau tak semudah terlelap di lautan lepas. Agus mendapat teman-teman yang sebenarnya sungguh tidaklah menjadi harapannya setahun yang lalu, tapi apa boleh buat, agus harus tetap bisa bergaul dengan mereka yang setiap hari membuang harta mereka banyak-banyak untuk kesenangan semata. Aku pernah berkata kepada Fadil “Kita harus tetap bertiga, tidak berdua, apalagi sendiri. Apapun yang terjadi, keadaannya. Setiap jam istirahat kita berdua yang harus menghampiri agus untuk rutinitas di kantin sekedar memesan es teh buatan ibumu Dil”. Fadil tertawa mendengar leluconku. “Ah, kamu bisa aja Rul. Es teh buatan ibuku, tak seenak buatan ibumu. Aku pernah meminumnya saat kamu membawa sekotak makan siang dan sebungkus es teh terbungkus rapi, rasanya manis. Tapi sayang, tak semanis anaknya haha” Fadil tertawa lepas mengejek Khoirul. “Hahaha segitu bahagianya kamu ya dil mengejekku. Apalagi omongan kamu seperti speaker, kencang sekali. Aku jadi malu jadinya… Tapi tidak apa-apa, aku tau itu hanya leluconmu saja”. Saat aku dan fadil sedang bertukar tawa, saling mengejek, tiba-tiba aku melihat agus sedang berada dikerumunan mereka yang kelakuannya sungguh bukan cita-cita agus, tapi aku heran, mereka begitu akrab seperti tidak ada apa-apa diantara satu sama lain. Padahal aku tahu, agus dari setahun yang lalu tidak suka dengan sosok-sosok yang seperti mereka. Apakah mungkin agus terpaksa menjalaninya? Jika ia, mengapa kulihat selalu ada senyum yang merekah saat mereka sedang berjalan didepan kelasku? Apa untuk membuatku merasa panas tak bisa berteman dengan orang-orang seperti mereka? Tidak, agus bukan tipe orang seperti itu. Atau aku salah melihat agus? Aku selalu memikirkan keadaan agus yang semakin hari semakin menjadi. Sebelum tidur aku selalu mengirimkan pesan singkat untuknya, tapi tak pernah sekalipun ia balas setelah aku lihat mereka berjalan bersama didepan kelasku. Fadil pun berkata jika dia tak pernah melihat agus berada dikeramaian orang-orang yang mengantri es teh di kantin ibunya. Mungkin semenjak itulah agus dihasyut untuk tidak jajan di kantin ibunya fadil. Maklum, mereka yang berlimpah harta selalu jajan di kantin yang elit dan menyediakan makanan yang istimewa, tak sesederhana kantin ibunya fadil yang menjajakan makanan yang tak enak, dan tak sampai merogok kocek terlalu dalam.
            Tak hanya sekali agus dan teman barunya lewat didepan kelasku, beberapa kali aku melihatnya, menyapanya, tapi sekali lagi usahaku sia-sia, sapaanku dihempaskannya jauh seperti kita memang tak saling kenal. Apa agus malu mempunyai sahabat seperti aku dan fadil? Pikiran itu selalu masuk terlalu dalam ditelingaku. Setelah lama aku dan fadil dilupakan agus, aku mulai lelah dengan sikapnya yang selalu dingin, aku tak mau membuang waktuku, membuat waktu berhargaku terbuang sia-sia untuk sahabatku yang melupakan aku. Aku mulai berdiam diri di kelas, mengurung diri untuk jajan di kantin mana saja termasuk kantin ibunya fadil, agar aku bisa terbiasa jika aku hanya akan mempunyai satu sahabat. Fadil lah yang selalu berusaha menemaniku, mengajakku bercerita dan mengajariku untuk melupakan sesuatu yang mungkin menurut kita baik tapi menurutnya hal yang sepele. Fadil juga yang mengajariku untuk memaafkan, dan mengikhlaskan agus yang setahun lalu adalah sahabat terbaikku, bahkan aku menganggapnya melebihi fadil.
            Tiba-tiba ketika aku sedang mengurung diri di kelas, Fadil menghampiriku “Rul, bagaimana jika kita berdua bujuk agus untuk kembali mengingat perkataannya setahun yang lalu? Aku tidak melarangnya untuk berteman dengan siapa saja, tapi aku melarangnya untuk melupakan kita berdua. Aku juga tak mau melihat kamu yang setiap hari berdiam diri didalam kelas, biasanya kan kamu anaknya super aktif, kalau tiba-tiba kamu jadi anak pendiam, aku malah bingung. Aku ingin kita bertiga kembali, tak seperti ini”. Kata-kata fadil saat itu mampu membuatku semangat kembali. “Bagaimana jika nanti sore kita main ke rumahnya? Kita bicarakan soal hal ini di rumahnya, aku tunggu kamu di sekolah jam 15.00”. Fadil tersenyum dan mengacungkan ibu jarinya. Lalu tiba-tiba guru matematika sudah datang dengan membawa muka kesalnya. Padahal kemarin tak di adakan ulangan dan itu berarti tak ada nilai yang jelek. Memang begitu guru matematikaku yang satu itu, sedikit berbeda dibanding guru yang lain, mereka bersahaja, bahagia saat mengajar di kelas kami.
            Pelajaran matematika oleh ibu guru judes akhirnya kelar, aku menghela nafas panjang.Istirahat kedua pun sudah tiba, aku segera menuju ke kantin ibunya fadil sendirian, fadil sudah ada disana ketika bel mulai terdengar, ketika aku masih sibuk membereskan buku-buku matematika yang membuatku jenuh sampai terdengar bunyi diperutku. Ketika di kantin ibunya fadil, aku memesan seporsi menu makan kebiasaanku, nasi dan brokoli goreng tepung, aku memesan segelas es teh ke fadil, karena fadil membantu ibunya membuatkan minuman di kantin saat jam istirahat. Ketika pesanan ku sudah jadi, aku segera membawanya ke meja sebelah pintu agar aku bisa keluar dengan cepat, dan bisa melihat keramaian disekitar. Hari ini, jam istirahat kedua tepatnya, kantin ibunya fadil cukup ramai anak kelas 8, teman-teman seangkatanku, seperjuanganku. Ketika aku sedang melahap sesuap nasi, tiba-tiba saja agus dan teman-temannya yang baru datang, teman-temannya memesan es teh ke fadil, tapi agus tak memesannya, agus hanya mengikuti langkah mereka pergi. Ketika fadil melihat dijajaran orang yang sedang memesan es teh kepadanya, ia melihat agus dikerumunan itu, ia begitu pendiam sekali, bahkan ia tak tersenyum melihat fadil, apalagi tersenyum, melirik saja ia tak mampu, ia lebih senang menundukkan kepalanya sekarang ketika melihat aku atau fadil. Aku tak tau ketika agus berada di kantin yang sama denganku ketika makan siang, karena aku sibuk melahap makananku, hingga aku tak melihat sekitar. Tiba-tiba teman-teman agus yang baru mengejek fadil yang sedang membantu ibunya “Cepatlah! Kok lama banget... capek ya? Makanya kalau punya orang itu yang kerjanya kantoran, jadi enggak repot macam ini, mana buat es teh nya lama lagi...” ejek teman-teman baru agus dengan keras, hingga semua yang jajan di kantin ibunya fadil pandangannya menuju ke fadil, kini fadil menjadi bahan ejekan karena teman-teman baru agus. Agus hanya diam saja, mungkin dia juga bingung untuk membela yang mana. Aku segera bangkit dari bangku meja makan, dan aku langsung membela fadil yang saat itu emosinya kian meningkat, aku mengajarkannya untuk sabar, menahan emosi, ibunya fadil mengeluarkan banyak air mata dipipinya. Aku cuma bisa bilang ke ibunya fadil “Sabar bu, tak lama karma akan datang. Percayalah”. Aku langsung membayar makanan dan minumanku, kuberikan kepada ibunya selembar uang kertas berwarna ungu ke merah jambuan, lalu di kembalikannya selembar uang berwarna abu-abu. Aku lalu mengajak fadil untuk menenangkan diri di kelas. Teman-teman agus tadi tak jadi membeli, mungkin mereka hanya bermaksud untuk mengejek fadil, bukan memberinya jalan untuk menuju orang yang lebih mampu.
            Aku semakin kesal sendiri dengan sikap agus, sore ini aku dan fadil akan pergi ke rumahnya, tak jauh dari sekolah, hanya kurang lebih 200 meter saja. Ku tempuh dengan langkah kaki, sambil kugendong tas hitamku, dan aku masih mengenakan seragam batik. Aku mengetuk pintunya hanya sekali, tiba-tiba seorang laki-laki seumuranku membukakan pintu, menyapaku ramah, dan masih menundukkan kepala. Iya, itu agus. Ia menyuruhku masuk, dan duduk di ruang tamunya. Aku dan fadil tidak panjang lebar untuk menyampaikan maksud kedatanganku. Aku menanyakan mengapa sekarang ia berubah? “Hai Gus, kamu kenapa sekarang jadi berubah? Sikapmu terhadap kita dingin, tak seperti dulu, aku rindu agus yang dulu, apa karena teman baru? Kalau iya, mengapa kamu berani menjilat lidah kamu sendiri? Kalau kamu terpaksa berteman dengannya, apakah tidak ada teman yang lain yang bisa membuatmu jauh lebih baik dibandingkan yang sekarang. Mengapa sekarang kamu mulai menjauhi kami saat kami berusaha keras mendekatimu? Apa kamu sekarang sudah dibodohi mereka? Kamu mungkin tak tau maksud mereka, bisa jadi mereka membodohi kamu agar kita bisa diadu domba, kalau kamu memang orang yang pintar, pasti kamu tidak akan seperti itu kan Gus?” pertanyaanku yang seperti kereta api itu langsung keluar dari mulutku, karena aku sudah ingin menanyakan ini jauh hari sebelumnya. “Maafkan aku, rul, dil. Kalau kalian menganggap aku berubah itu benar, tapi tidak pernah bermaksud menjauhi kalian, di kelas aku, siswa laki-lakinya hanya orang-orang seperti itu saja dan aku. Jadi aku bisa apa? Apa iya aku harus bergaul dengan siswa perempuan yang sukanya bermain masak-masakan? Aku juga mengerti rul, maka dari itu, aku tidak pernah mengangkat kepalaku sedikitpun ketika aku melihat kalian, karena aku tidak mau terlihat menantang kalian, kalian masih sahabatku, aku masih seringkali menceritakan kalian pada orang tuaku, ketika kalian sesekali pernah menyapaku tapi aku tak meresponnya, aku sudah memilih jalan ini rul, dil. Dan ini harus tetap kujalani sampai satu tahun kedepan, setelah akhirnya kita mungkin bisa dipersatukan kembali” jawabnya sambil menuangkan air putih di gelasku, dan gelasnya fadil. “Kamu memilih untuk berhenti menjadi sahabatku dan fadil atau kamu memilih berteman dengan mereka yang dulu sering kamu ceritakan hal buruknya kepada kita?” tanyaku untuk meyakinkannya sekali lagi. “Kalian. Kalian sahabatku, mereka hanya temanku sesaat, mereka hanya ada saat aku sedang suka, tapi mereka menjauh saat aku duka” jawabnya dengan bijaksana. “Kita kembali 3 kan rul, gus?” tanya fadil dengan tawa kecilnya. “Iya dong, dari 3 pasti kembali 3” jawabku dengan santai. “Terima kasih kalian sudah mau menerimaku kembali, dan memaafkan kesalahanku selama ini. Kalian memang sahabatku. TIGA NAMA!!!” setelah aku berucap terima kasih, kami bertiga bersorak-sorai tertawa lega. Akhirnya persahabatan kami bisa kembali lagi.


--BERSAMBUNG--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar