adsense

Minggu, 16 Agustus 2015

60 Hari di Solo = Sejuta Kenangan

Tau apa aku Solo? Sekenal apa aku sama Solo? Ke Solo aja jarang dan hampir nggak pernah, palingan juga lewat aja. Tapi jangan salah, walaupun aku nggak tau Solo, paling kikuk kalau ngomongin Solo, tapi aku tau Semarang. Iya, Semarang... Cita-citaku sejak masuk kelas XI, berharap banget bisa On Job Trainning di RRI (Radio Republik Indonesia) Semarang, sampai 6bulan sebelum OJT udah request sama wali kelas, biar emang keturutan OJT disana. Dan akhirnya waktu cepet banget berputarnya. Nggak kerasa udah akhir bulan Januari 2015, artinya OJT tinggal 1bulan lagi.
          Saat pelajaran produktif kejuruan, Pak Singgih (wali kelas) duduk dibelakangku, melihat karya animasiku, dan ngomongin seputar OJT. Dan... Ya itu sakit banget, sakit banget... Udah dari dulu-dulu merencanakan OJT di Semarang, eh Pak Singgih bilang “RRI kuotanya udah full, jadi nggak ada yang OJT di Semarang... Terus kamu mau kemana?”. Ya aku berharapnya sih di UDINUS aja sekalian, biar besok kalau kuliah disana aku udah tau seluk beluknya, terus bisa barengan deh sama...hehehe. Tapi, ya aku jawab “Loh Pak...lha terus gimana? Di Semarang emangnya nggak ada lagi selain di RRI Pak?”. Pucuk dicinta ulam pun tiba, Pak Singgih bilang “Saya sudah pesen tempat di UDINUS, tapi UDINUS lagi ngebutuhinnya anak TKJ, jadi MM nggak bisa. Padahal UDINUS malah bagus buat MM, soalnya bisa sekalian belajar dan mendalami broadcast, soalnya disana ada jurusan Broadcasting”. Ampun... Sakit banget, nggak bisa nuruti cita-cita sendiri... Danik (temen sebangku) bilang “Solo aja, nanti bareng aku”. Ya, daripada di Purwodadi ketemunya itu-itu terus, cari udara lain ah, pikirku. Yaudah deh, akhirnya aku memutuskan OJT di UNSA Solo, karena disana juga banyak temennya, UNSA membutuhkan anak MM sebanyak 10orang, dan hanya ada 7 yang harus berangkat ke UNSA akhirnya, karena masih dibagi dengan DuDi (Dunia Industri) lainnya.
          Aku, Achni, Khoirul, Bonar, Rifky, Amin, Dana. Mulai menjalankan aktifitas sebagai anak magang di UNSA bersama dengan 10teman anak TKJ dari sekolahku juga, dan 4teman TKJ dari Kaliwungu,Semarang, serta 4teman TKJ dari Ngawi. Iya, kita memang anak MM satu-satunya yang magang disana ketika mereka semua anak TKJ. Kadang juga pernah sakit sih, iyalah... Ketika ada pelajaran anak TKJ, anak MM disuruh ikut, tapi giliran anak MM ada pelajaran, anak TKJ pada sibuk dengan dunianya. Emang sih, iya emang, kita kan gak harus mempelajari jurusan kita aja... tapi tolonglah sedikit mengerti... Pelajaran anak MM emang gampang, karena itu muncul dari kekreatifan kita masing-masing, nah pelajaran TKJ? Salah sedikit, konslet cyiiin...
          Satu minggu di UNSA rasanya seperti 5tahun magang, asli! Gimana enggak? Kita baru aja ngerasain kerja, tiba-tiba disuruh kerja selama 12jam. Muke gile... kita di luar kota, jauh dari orangtua, ngekost, apalagi kostku perjanjiannya tutup jam 10. Jadi kami berangkat jam 8pagi, sampai jam 8malam. Sebenarnya sih ada jam istirahat, tapi hanya 1jam saja, dan logika aja...kami berada di lantai 4, tanpa lift, mendingan turun istirahat beli jajan/gak usah istirahat aja sekalian? Kan sama aja, waktunya habis buat naik turun tangga, dan tenaga kebuang sia-sia buat naik turun tangga. Bener nggak?
          Tapi alhamdulillah, bersyukur banget dengan kedatangan anak TKJ dari Walikukun-Ngawi, anak MM jadi dapat jatah shift. Kadang shift pagi (jam 8pagi-2siang), kadang juga shift siang (jam 2siang-8malam). Kalau aku sih, mending shift pagi, karena kalau shift pagi itu, pulang magang kita masih punya waktu cari makan diluar, atau jalan-jalan biar nggak bosen di kamar kost. Soalnya kalau shift siang, kita makannya nasi kucing angkringan depan gang mulu, jadi nggak dapet gizi.
          Hari berganti minggu, 2minggu pertama setelah minggu lalu kita pulang ke Purwodadi, minggu ini aku sama Ayuk habiskan buat jalan-jalan ke Jogja, dengan kereta Prameks kita diantar sampai ke stasiun Tugu Yogyakarta, sampai stasiun Tugu sekitar jam 7, dan suasana di Jl. Malioboro yang biasanya ramai, terlihat sepi sekali, hanya ada beberapa becak dan andong yang meramaikan jalanan yang aku ketahui tak pernah sepi pengunjung. Baru jalan sebentar, sudah disapa bapak tukang becak menawarkan becaknya untuk mengantarkan kami sampai tujuan, kami meminta untuk diantarkan ke Keraton Jogja, sesampainya disana, ternyata masih pagi sekali kami untuk mengunjunginya, masih tutup dan sepi pengunjung, kami memutuskan untuk jalan-jalan lagi disekitarnya, sampai di Alun-Alun Jogja, kami sarapan dulu biar nggak laper hahaha. Terus kami lanjutkan perjalanan bolang kami ke Museum Kereta, lalu ke Benteng Vredeburg dan akhirnya ke Matahari untuk cari makan siang dan melihat-lihat fashion, terus masuk ke daerah pasar Malioboro, kini terlihat sangat amat ramai sekali. Lelahnya gak karuan, kami memutuskan untuk pergi ke stasiun lebih awal untuk memesan tiket pulang ke Solo, sesampainya di stasiun ternyata sudah ramai, dan kami kehabisan tempat duduk untuk menunggu kereta, tapi alhamdulillah kami gak kehabisan tiket untuk pulang. Gapapa kami duduk dilantai, toh banyak juga orang-orang yang duduk dilantai, buat have fun aja kali, mumpung gak ada yang kenal kami wkw. Kereta Sriwedari jurusan Yogyakarta-Solo mengantarkan kami pulang ke stasiun Solo Balapan, sampai di stasiun ternyata sudah maghrib dan hujan, Khoirul dan Bima sudah berjanji untuk menjemput kami sebelum kami sampai, tapi malah telat, dan pulang dari stasiun sampai kost hujan-hujan karena mereka gak bawa jas hujan untuk kami.
          Minggu udah berganti bulan, dan udah nggak kerasa udah mau habis aja masa magang kami, H-2minggu kami selesai, instruktur dengan santainya menyuruh kami membuat tugas akhir! Gila! 2minggu bisa apa?! Pilihannya ada short movie/trailler movie/video clip/iklan dan apalah yang berhubungan dengan multimedia. Akhirnya kami memutuskan untuk membuat video klip! Dengan waktu seadanya, kamera DSLR 2, dengan wardrobe, aktor, aktris, make up, dan tentunya bekal acting yang kami punya walaupun ala kadarnya, dan alhamdulillah dibantu dengan instruktur multimedia paling baik “Mas Bom-Bom” (Arfian Hendro, S.Kom-Dosen Multimedia II) kami dibantu dengan sumbangan lagunya dari band indie “Kabamba” dan lagu yang berjudul “Christmast In My Birthday” menjadi acuan kami membuat sebuah video klip dan Mas Bom-Bom inilah yang membiayai villa untuk kami menginap dan makan kami dia yang menanggungnya. Selama kami di villa saat pengambilan gambar, kami saling bertukar pikiran tentang kesan pesan kami selama di UNSA, dan tentang instruktur-instruktur yang membimbing kami. Dan ternyata selama ini kami memendam perasaan yang sama tentang salah satu instruktur kami wkwk (Anak MM yang magang di UNSA pasti tau lahya...hihi).
          Dan dengan waktu satu minggu yang tersisa, kami manfaatkan untuk proses editting agar sebelum kami pulang ke Purwodadi, tugas kami sudah terselesaikan. Sebelum deadline yang ditentukan, akhirnya usai sudah perjuangan kami.
60 Hari yang tidak akan ada kembali
60 Hari yang tidak bisa ditemukan dimana-mana
60 Hari yang tidak akan bisa terulang

Terima kasih Allah S.W.T, Nabi Muhammad S.A.W, orang tua kami...mama,papa, dan keluarga kami, instruktur kami Mas Bom-Bom (Papi), Mbak Risca (Mami), Mas Wisnu, Mas Tio, Mas Abil, Mas Marvel, Mas Fredy, admin-admin UNSA, kakak-kakak MKTI UNSA, teman-teman MM SMKN 1 Purwodadi, TKJ 2 SMKN 1 Purwodadi, TKJ 2 SMKN 1 Kaliwungu-Semarang, TKJ 2 SMKN 1 Walikukun-Ngawi.

Sabtu, 09 Mei 2015

Berpisah dengan Multi Media?

       Halo, namaku Bintang, siswa kelas XI Multi Media SMK N 1 Purwodadi. Aku senang sekali bisa menjadi bagian dari keluarga multimedia, disini tak hanya ilmu yang kudapat, tapi juga kesenangan bahkan kesedihan. Iya, kesenangannya karena pelajaran multimedia itu asyik dan tidak membosankan, kita bisa mengekspresikan sendiri tanpa ada batasannya. Seperti pelajaran Fotografi, mungkin fotografi tidak asing bagi kalangan anak muda jaman sekarang, tapi sebenarnya fotografi mempunyai banyak sekali teknik untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Dan di jurusan multimedia ini, aku mempelajarinya. Membuat film juga, dengan membuat film, kita bisa sedikit memahami betapa lelahnya seorang aktor yang memerankan perannya, seorang sutradara yang sibuk mengatur jalannya pembuatan film, betapa lelah seorang kameramen mencari angle dan shot yang menarik, dan jenuhnya editor mengedit scene demi scene yang tak terhitung dalam sekali pembuatan film. Kesedihannya karena dengan banyaknya tugas yang berbaris mengantri untuk dikerjakan membuatku sangat lelah dan kadang hampir putus asa. Tapi, yang selalu kuingat “Kalau kita sudah memulainya, kita harus bisa mengakhirinya”. Ibaratnya, kita sedang dalam perjalanan yang sangat jauh untuk ditempuh, membutuhkan berjam-jam untuk melewatinya, tapi setelah kita berjalan separuhnya lebih, apakah kita rela memutar balik arah kita yang tadinya ingin ke tempat A menjadi ke tempat semula? Tidak kan?.
      Aku tak bisa membayangkan, bagaimana jika teman yang sudah menemani hari-hariku selama 3 tahun nantinya akan berpisah. Tapi rasa ditinggal teman-teman yang sudah rela menumpahkan cerita kesehariannya kepada kita, pasti tak cukup dengan kata “berat”. Ada kegelisahan, ada kegalauan, ada kesedihan yang mendalam saat merasakan perpisahan.        Tapi, setiap pertemuan pasti ada perpisahan, cepat atau lambat, pepatah ini akan terjadi pada siapapun, termasuk aku. Tentu ada air mata, tentu ada semilir duka, tapi aku percaya bahwa semua ini akan terlewati dan kembali baik-baik saja. Karena kita sebagai manusia pasti punya rasa rindu yang menggebu. Tapi setelah kita berpisah nanti, jangan ada benci apalagi caci. Kita masih bisa bertemu, dalam nyata atau dalam do’a. Kita masih bisa saling membahagiakan, dalam peluk, dalam tawa semanis saat ini. Perpisahan sebenarnya itu tidak ada, karena hanya raga kita yang terpisah, tapi jiwa kita masih bersama, dan do’a juga akan selalu mengalir mengikuti kemana pijakanmu berlalu.
      Sudut-sudut ruang multimedia pernah menjadi saksi bisu, bahwa aku disana pernah mempelajari ilmu-ilmu tentang multimedia. Disana aku mendapat banyak teman dengan beragam karakteristik, ada juga guru yang tak sekedar membagi ilmunya, tapi sekaligus beliau adalah temanku berbagi cerita. Meja, kursi, komputer, lantai-lantai yang tak pernah menangis setiap kali ku menapakkan telapak kakiku disana, atap-atap ruangan yang selalu merangkulku, memberi kehangatan, dan seisinya pasti akan selalu aku rindukan.

Rabu, 06 Mei 2015

Blink - Bahagia Setengah Mati

Curiga kamu perangkai bunga
Karna setiap dekatmu
Hatiku berbunga-bunga

Curiga kau juara mewarna
Karna setiap dekatmu
Hidupku lebih berwarna

Hanya jatuh cinta
Yang jatuhnya bukan kebawah
Karna jatuh cinta
Membuatku melambung

Bahagia setiap detik bersamamu
Bahagia bila aku disampingmu

Sumpahku
Sungguh-sungguh mencintamu
Tak kan setengah hati
Tapi setengah mati

Curiga kau juara mewarna (curiga)
Karna setiap dekatmu
Hidupku lebih berwarna

Bahagia setiap detik bersamamu
Bahagia bila aku disampingmu

Bahagia, bahagia, jadi milikmu

Bahagia setiap detik bersamamu
Bahagia bila diriku disampingmu

Setiap detik bersamamu
Bahagia bila aku disampingmu
Bahagia (ku bahagia) setiap detik bersamamu
Bahagia (bahagia) aku disampingmu
Sumpahku
Sungguh-sungguh mencintamu
Tak kan setengah hati
Tapi setengah mati

Rabu, 22 April 2015

Biodata Pricilla Blink

Nama Lengkap : Elisabeth Agatha Pricilla Soekamto
Nama Panggilan : Pricilla
Nama Lain : Agatha Pricilla, Pricilla Blink
Tempat, Tanggal lahir : Jakarta, 30 September 1997
Agama : Kristen
Sekolah : SMA Pangudi Luhur 1 Jakarta
Nama Ayah : Paulus Tonny Soekamto
Nama Ibu : Adriana Elisabeth
Nama Kakak : Alexandra Ancilla
Pacar : Ferro Walandouw
Pekerjaan : Penyanyi, Aktris, Model

Tanya Jawab Dengan Fero Walandouw tentang Hubungannya dengan Pricilla Blink

CC : Bagaimana ceritanya bisa dekat dengan Pricill?
Fero : Awalnya kami nggak banyak mengobrol. Paling hanya untuk keperluan syuting saja. Tapi, lama kelamaan, saya melihat Pricill itu berbeda, terutama saat kami ngobrol. Rasa cinta itu pun tumbuh. Kami jadi sering jalan bareng selepas syuting. Akhirnya setelah lebih dari dua ratus episode bermain bareng, saya memberanikan diri menembak Pricill. Sampai saat ini, hubungan kami sudah berjalan hampir enam bulan.

CC : Apa sih kesamaan antara kalian berdua?
Fero : Kami itu sangat cuek dan santai menjalani hubungan. Mungkin itu yang membuat saya jadi sangat menikmati hubungan ini. Saya dan Pricill juga berusaha menjalin hubungan dengan apa adanya tanpa ada masalah yang ditutupi.

CC : Ada nggak yang sering dikeluhkan Pricill tentang Anda?
Fero : Kalau lagi ada masalah, biasanya sikap saya jadi berbeda. Tiba-tiba berubah cuek dan pendiam. Pricill sering kesal dengan sikap ini. Soalnya, menurut dia masalah ketika didiamkan saja justru jadi akan menumpuk dan nggak selesai. Dari situ saya berusaha untuk belajar lebih terbuka.

CC : Apa hal romantis yang pernah Anda lakukan untuk Pricill?
Fero : Saya termasuk sering tuh, memberikan kejutan. Tapi, rasanya hal itu biasa. Bagi saya, romantis itu ketika saya mengantarkan Pricill saat tumbang di lokasi syuting ke rumah sakit. Saat itu, saya sama sekali nggak panik. Saya menunggui dia di rumah sakit hingga kondisi dia pulih. Itu romantis kan? Soalnya, saya nggak pernah bersikap seperti ini untuk seorang cewek.

CC : Sebenarnya masalah nggak perbedaan usia diantara kalian?
Fero : Nggak tuh, Pricill sangat dewasa dan bisa mengerti saya. Padahal, saya akui saya termasuk cowok egois. Dari Pricill, saya belajar untuk menahan ego dan belajar mengerti.

CC : Apakah kalian berencana untuk melanjutkan hubungan ini ke tahap serius?
Fero : Kami sempat sih, membicarakan hal tersebut. Soalnya, kami merasa sudah saling menemukan kecocokan masing-masing. Cari apa lagi? Pacaran hanya untuk main-main, buang-buang waktu, tenaga dan hati.

Source : http://www.citacinta.com/ceria/selebriti/hal.teromantis.yang.dilakukan.fero.walandouw.untuk.pricilla.blink/006/006/1919